“Inginkah kalian masuk ke dalam syurgaNya?” serontak semua menjawab “mauuuu…”

Tertulis sebuah renungan penuh sarat, dalam selintas perjalalanan kehidupan.
Hari ini, aku bertekad untuk bangun malam dan kemudian shalat malam, lalu kemudian diteruskan shalat shubuh lalu membaca Al Quran, hingga matahari terbit menghangatkan bumi.

Dihari pertamaku bertekad ternyata shalat malamku tertinggal, kesibukan dikantor, bergaul dengan teman-teman hingga membuatku tidur terlelap, sampai-sampai shalat shubuh pun kulakukan menjelang shalat dhuha.

Hingga terkadang shalat dzhuhurku pun kulakukan menjelang ashar mulai memanggil. Penyesalan datang di dalam hati, pertanyaan muncul "kenapa, kenapa…?" lalu kutekadkan kembali untuk shalat malam malam ini, dan shalat fardhu tepat waktu, namun di hari berikutnya, kuulangi lagi seperti sebelumnya, terlewat lagi dan lagi.

Hari itu aku begitu sibuk, mengerjakan ini itu, hingga ponselku berbunyi, segera ku tinggalkan pekerjaanku dan kubaca sms yang masuk, lalu segera aku membalasnya.

Ternyata temanku memberi tau, akan datang kerumah untuk memberikan sebuah novel kepadaku, betapa senangnya diriku, lalu sesampainya novel itu ditanganku langsung kubaca hingga selesai, tak sampai 1 hari aku membaca novel itu, padahal novel itu begitu tebal hingga ratusan halaman, namun Al Quran yang hanya 114 surat 30 juz 1/3 nya pu aku tak hafal, ketika ditanya oleh sahabatku mengenai cerita novel itu begitu lancarnya aku menjelaskannya dan memberikan komentar.

Tapi jika ditanya makna surat Al Ikhlas pun aku diam seribu bahasa. Ketika suara sms berbunyi segera ku lihat dan cepat-cepat membalasnya, namun suara adzan berkumandang di sana sini, aku hanya mendengar lalu saja sambil berkomentar "Ahhh…sudah adzan lagi.."

Hingga hari itu, aku mendapatkan kabar temanku meninggal dunia, tersentak kaget mendengar kabar itu, temanku telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya dan di 1/3 malam dia menelpon aku untuk mengingatkan shalat malam.

Ajal, kematian satu kata yang membuat bulu kudukku merinding mendengarnya. Kenapa aku begitu takut?padahal kematian selalu mengiringiku kemanapun aku pergi, siap mengambil diriku kapanpun Allah menghendakinya. Sudah bertahun-tahun aku lalai, hari demi hari aku lalui seoalah kematian itu masih jauh menghampiri. Betapa banyak ibadah fardhu aku tinggalkan apalagi yang sunnah.

Sahabatku betapa dekatnya kematian dengan kita, namun sering kita melupakannya atau pura-pura tidak mengingatnya, kita menyadari bahwa ada rasa takut di dalam hati kita, rasa takut itu muncul karena kita menyadari bahwa kita belum siap menghadapi kematian itu.

Namun sejauh apapun kita berlari, sekeras apapun kita berusaha menghindar kematian itu akan tetap dating menghampiri, masih segar berita longsor di kota bandung ciwidey yang menewaskan puluhan korban, beberapa korban ditemukan sudah tak bernyawa namun ada juga yang sudah sehari semalam tertimbun masih selamat atau ditemukan masih dalam keadaan hidup.

Kejadian itu, mengingatkan kita semua yang masih hidup bahwasannya kematian itu tidak bisa dihindari, ataupun kita tunda barang 1 detik pun, begitu pula sebaliknya jika Allah belum menghendaki maka kematian itu tidak akan terjadi. Mungkin kita ketika sedang bercengkrama dengan keluarga tertawa-tawa penuh canda, tiba-tiba ajal menjemput… apa yang bisa kita lakukan?Inilah jika Allah sudah berkehendak, siapapun tidak bisa mengelaknya.

Ketika kita diajukan sebuah pertanyaan “inginkah kalian masuk ke dalam syurgaNya?” serontak semua menjawab “mauuuu…” lalu semua ditanya, kalau begitu kalian sudah siap mati? Serontak semuanya kembali kompak, namun kompaknya adalah terdiam.

Padahal, bagaimana kita bisa masuk ke dalam syurganya yang maha indah, jika kita tidak mengalami kematian?Kematian adalah pintu menuju syurga. Namun kita tak pernah tau kapan kematian itu dating menjemput.

Begitu banyak orang yang tertidur lalu tak kembali bangun, mengendarai kendaraan tiba-tiba tertabrak, atau ketika sujud ajal menjemput. Bagaimana dengan kita?apa yang sedang kita lakukan ketika ajal menjemput?

Jadi, sahabatku sekalian yang dirahmati Allah swt, tak ada pilihan lain kecuali kita harus mempersiapkan diri, jadi kapanpun dimanapun kita siap bertemu dengan sang Khaliq. Salah satu caranya adalah berusaha selalu memperbaiki diri, dan berbuat kebaikan.

Seperti dalam Q.S Al Qashash: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Semoga ketika kita dijemput kematian, kita dalam keadaan dekat dengan Allah swt. Dalam rahmatNya, cintaNya dan kasih sayangNya, sehingga kita menuju pintu kematian yang membukakan syurga yang indah dan menyenangkan. Atas ridho Allah SWT.

Amin Ya Rabbal alamin.
Semoga bermanfaat.

 

Sumber:http://www.facebook.com/home.php?#!/?page=1&sk=messages&tid=1299640582451